09 Maret 2008
Sabtu kemarin naik kereta ke Bogor. Biasa, kereta listrik, KRL ekonomi yang murah meriah dan ramai. Heran juga kenapa terbiasa menyebut kereta dengan kereta api, padahal sekarang kereta ada yang bertenaga diesel, listrik. Tetap saja menyebut dengan kereta api dengan konotasi kereta yang mengeluarkan api. Seram juga membayangkan kalau kereta itu benar-benar mengeluarkan api. Siapa juga yang mau naik dan mendekat bukan? Kebiasaan memang susah dihilangkan.
Saya lupa kalau ada kereta express, yang be AC dan tujuan langsung Bogor tidak berhenti-henti di setiap stasiun. Tapi sudah terlanjur membeli tiket kereta ekonomi. Tidak tahunya lewat yang express Jakarta Bogor. Keburu sudah di jalur tunggu tidak mungkin membeli tiket. Untuk gambling naik dan membayar diatas kereta itu bukan kebiaasaan saya. Bukan mau sok idealis, tapi utamakan tertib dan disiplin dari diri sendiri, itu kebiaasaan baik yang tidak bisa dihilangkan juga ternyata. Jadi ya menunggu kereta ekonomi yang sudah saya beli tiketnya seharga Rp.2500,- itu. Tidak apalah. Toh saya tidak dikejar waktu dan setan kok. Lagipula banyak pemandangan yang bisa dilihat, dari anak kuliahan yang duduk disebelah saya, mbak-mbak ber make up ½ tebal, ibu-ibu yang berdandan ala bintang film sinetron lengkap dengan baju ketat dan sepatu hak 5cm, keluarga harmonis yang saling bergandengan tangan satu sama lain supaya tidak hilang hingga mas-mas perokok yang punya mata jelalatan.
Tiga puluh menit kemudian kereta datang, untunglah, soalnya saya sudah mulai pengap dengan bau rokok mas-mas itu. Uhuk…uhuk…Seperti biasa dan layakanya pada umumnya kereta kelas bawah yang murah meriah itu, pintu masuk selalu berebutan. Entah orang yang akan keluar, entah orang yang akan masuk atau orang yang berdiri di pintu masuk saja. Pokoknya mau masuk harus ada perjuangan dulu. Didalam kereta adalah perjuangan yang lain lagi. Untung yang ketiga kalinya, di dalam kereta tidak terlalu ramai. Saya dapat tempat duduk. Mungkin karena masih pagi, jadi orang banyak yang belum bepergian dan masih senang pelukan dengan selimut.
Alhasil saya duduk disebelah ibu-ibu yang langsung mendekap barang-barang bawaannya begitu saya duduk disebelahnya. Tapi dari matanya kelihatan kalau sudah cukup senang karena saya yang duduk disebelahnya. Mungkin kalau yang duduk disebelahnya itu mas-mas perokok tadi pasti sudah langsung melotot matanya.
Setelah kereta berangkat, makin ramai saja suasananya. Ada anak kecil yang memasang muka memelas, berpakaian seragam kotor, menyapu sepanjang koridor, terus setiap bertemu dengan wanita selalu menengadahkan tangan, minta belas kasihan. Kenapa yang diminta selalu wanita? Apalagi wanita berjilbab selalu diminta sumbangan. Berlama-lama ditunggu, kalau diacuhkan sering dimaki-maki. Apa salahnya wanita yang memakai jilbab itu? Apa kalau memakai jilbab harus selalu memberikan sumbangan pada orang-orang? Apalagi yang berpura-pura seperti itu?
Jangan heran kalau tiba-tiba disodori permen jahe atau permen asam tanpa basa basi ada di tangan kita. Pedagangnya selalu bermuka masam, seperti permen yang dijualnya. Dan dia akan kembali lagi untuk mengambil permen itu, kalau tidak dikembalikan dia akan meminta uang. Tidak perlu teriak-teriak bukan. Sungguh praktis.
Banyak pedagang lain yang lalu lalang, Rokok,rokok, tissue, jepit rambut,jeruk, jeruk, aqua, aqua…..begitu teriakan-teriakan di dalam kereta. Belum lagi lewat tukang ngamen, yang memakai speaker cempreng……sekali suaranya. Atau yang meminta sumbangan untuk pembangunan mesjid ini mesjid itu. Banyak yang sangat menarik untuk dilihat. Tiap pedagang mempunyai spesialis dagangan tertentu. Seperti pedagang jeruk, dia hanya menjual jeruk, lima ribu tiga, lima ribu tiga. Pedagang minuman hanya menjual minuman yang sejenis, teriakannya aqua aqua, entah merek apa minuman yang dijual tapi teriakkannya tetap aqua, aqua. Pedagang rokok sejenis dengan tissue, korek api, kalau korek ini benar-benar mengeluarkan api. Terkadang satu orang pedagang punya papan untuk pajangan barang-barang apa saja yang akan dijual. Berbentuk kotak sebesar 1x1m. Ada yang dipajang jenis perhiasaan wanita, ikat rambut, jepit rambut, sisir, pita, gunting kuku, warna warni. Ada juga yang berjenis lain, campur aduk entah jenis apa namanya, barang-barang yang dijual adalah gunting kuku, kikiran kuku, gunting biasa, korek kuping, diatas pajangan korek kuping itu ada racun tikus, wah…aneh sekali,kenapa korek kuping menjadi satu jenis dengan racun tikus ya.
Tiba-tiba saya kaget, berhenti, berhenti, kereta sampai disini saja. Lo, ini kan belum sampai Bogor, kenapa disuruh turun? Terus bagaimana bisa sampai ke Bogor? Wah, ternyata disuruh tukar kereta di peron sebelah. Hahaha….seperti naik bis kota di Jakarta saja, kalau sepi penumpang disuruh turun terus disuruh naik bis berikutnya kalau ada, dan kalau mau. Kalau bis berikutnya tidak mau terpaksa bayar lagi. Nasib-nasib….Kereta juga begitu ternyata. Yah….sekali lagi namanya juga orang jawa mau protes bagaimana, yang ada cuma ngedumel, terutama penumpang wanita, langsung ngedumel. Bukan rasis lo, tapi itu yang terjadi. Akhirnya harus ke peron sebelah, dengan jalan turun dulu ke stasiun bawah, terus naik lagi. Untung tidak terlalu lama menunggu, kereta berikutnya sudah ada dan lebih ramai dari yang tadi. Jadi saya berdiri deh, karena banyak ibu-ibu yang harus diutamakan dahulu. Saya berdiri disebelah anak-anak SMA perempuan-perempuan yang selalu cekikikan sepanjang perjalanan. Setelah saya perhatikan sekeliling, ternyata dekat mereka ada laki-laki memakai baju sekolah penerbang. Pantas saja, abg abg itu mau menarik perhatian calon penerbang kita.
Terakhir saya naik kereta 5 tahun yang lalu, dan sampai sekarang hal-hal seperti itu belum berubah. Bagaimana perkereta apian Indonesia ini? O….bukan perkereta apian, tapi kondisi dan tradisi masyarakat yang tidak berubah juga. Sama sekali, atau perubahan itu sangat kecil. Terlihat dari dagangan, para penumpang, dari situasi di dalam kereta dan terlebih kondisi kereta semua masih sama seperti 5 tahun yang lalu. Yang berubah hanya sedikit sekali dari semuanya. Saya hanya membayangkan 5 tahun lagi kedepan apa masih sama seperti ini? Terus kapan majunya?
5 tahun yang lalu saya juga pernah diberhentikan di stasiun yang lebih kecil lagi, di daerah entah berantah buat saya, tanpa pemberitahuan dari sipir, kepala kereta, atau siapapun yang berwenang. Sama dengan yang sekarang ini, tanpa pemberitahuan kenapa harus bertukar kereta, tanpa pemberitahuan harus naik kereta yang mana. Kalau kita tidak memiliki rasa kebersamaan, ramah dan saling bertukar pikiran dengan sesama penumpang, pasti kita akan tersesat. Itu jelas sekali. Apalagi buat orang seperti saya yang sangat sangat jarang naik kereta. Tersesat atau bahkan kembali lagi naik kereta ke Jakarta, atau malah ke Surabaya? hahaha…kalau membayangkan itu lucu juga. Entahlah, karena ‘hanya’ berkarcis Rp.2.500,- Jakarta Bogor,para penumpang layak diperlakukan seperti itu? Murah meriah, desak-desakkan, pengap, bising, colek-colekkan tangan iseng? Sangat pembauran sekali. Bahkan setelah sampai Bogor dan keluar dari stasiun saya baru sadar kalau tadi di dalam kereta sama sekali tidak diperiksa oleh sipir kalau kita memiliki karcis atau tidak. Agh…..jika tahu tidak ada pemeriksaan dari PJKA kenapa tadi saya tidak naik express saja?????
Selasa, 18 Maret 2008
Senin, 17 Maret 2008
WARNA WARNI
Warna apa yang paling indah? Menurutmu warna apa? Aku suka semua warna. Merah, kuning, hijau, ungu, biru, coklat, semua aku suka. Tapi apa yg terjadi jika hanya dapat melihat beberapa warna saja? Aku tidak pernah membayangkan jika aku buta warna sehingga tidak dapat melihat warna-warna yang indah itu semua.
Tapi terkadang kita kurang menyadari saat-saat yang indah itu terlewatkan begitu saja. Kita sadar setelah lama kita lewati hari-hari indah itu. Dan lupa bahwa sekarang adalah momen yg indah untuk suatu kenangan di masa datang pula.
Inilah yang kualami ketika sudah 3 bulan ini aku tinggal di negara orang untuk tugas belajar. Pertama datang ke kota ini memang terasa sangat menyenangkan, karena semua bangunan adalah bangunan lama, kastil berderet-deret, rumah-rumah kuno dari ujung jalan ke ujung jalan yang lain. Dan semuanya berwarna coklat, abu-abu paduan dengan warna merah bata. Yang lebih mengharukan lagi, asrama tempat tinggalku semuanya juga berwarna coklat dan berdinding bata merah ekspose yang tidak boleh di utak atik ataupun di cat. Di toko-toko juga demikian, dari handuk mandi, keset, seprei hingga underwear semua rata-rata berwarna coklat, abu-abu. Daun-daun diluar juga berwarna coklat, merah bata karena sekarang sedang musim gugur. Warna biru cuma langit di luar kalau siang hari. Lama kelamaan mataku seperti melihat coklat, abu-abu dan merah saja, tanpa pernah merasakan warna lain. Rasanya sangat membosankan sekali jika hanya melihat warna yang itu-itu saja.
Setelah 3 bulan, rasanya ingin melihat warna-warna yang lain selain coklat, abu-abu dan merah bata. Aku jadi sering memperhatikan cangkir, piring yang ada warna hijau, ungu, kuningnya. Seperti sedang mengamati lukisan di museum. Sampai-sampai se
Sebelum berangkat ke negara ini,
Minggu lalu aku pergi ke daerah pedesaan dipinggir kota. Seorang teman mengajak pergi akhir minggu ke rumah orangtua nya. Pemandangannya sungguh indah. Bunga bermekaran, daun gugur dan mulai bersemi berwarna-warni. Di kejauhan warna pohon-pohon tinggi, semakin jauh tertutup kabut. Benar-benar suatu pemandangan yang tak terlupakan. Kemudian mataku melihat kupu-kupu bersayap ungu dan biru hinggap diatas bunga-bunga kuning. Dibelakang bunga kuning terdapat daun-daun berwarna hijau. Otomatis aku langsung mengabadikan momen itu, entah kenapa, semuanya refleks terjadi begitu saja. Beberapa momen aku ambil begitu saja.
Setelah kembali ke asrama dan memulai aktifitas kampus, aku melupakan foto-foto yang pernah ambil tersebut. Tadi malam karena kameraku sudah terlalu penuh, aku mulai memindahkan beberapa foto. Aku melihat dan mengamati foto-foto kupu-kupu dan bunga kuning tersebut. Aku juga mengamati foto-foto bangunan kastil-kastil daerah tempat tinggalku. Terbersit suatu pemikiran, apakah warna yang terindah itu.
Aku mulai sadar, warna yang terindah itu bukanlah harafiah warna yang kita lihat saja. Bukan kuning dan hijau melulu, bukan pula abu-abu dan coklat melulu. Yang terpenting adalah keseluruhan dari perpaduan warna itu. Kupu-kupu bersayap biru dan ungu itu memang sudah bagus dan indah, tapi akan lebih indah lagi jika bersenyawa dengan bunga kuning berdaun hijau. Bunga kuning berdaun hijau itu memang sudah indah jika dilihat, tapi akan lebih indah lagi jika dia bersenyawa dengan kupu-kupu bersayap biru ungu. Bangunan kastil-kastil abu-abu dan coklat itu memang sudah indah, tapi akan lebih indah lagi jika bersenyawa dengan manusia-manusia yang tinggal dan beraktifitas di dalamnya. Aku tidak pernah membayangkan pula jika kastil-kastil tersebut di cat dengan warna merah muda atau peach hanya untuk menghilangkan kebosanan dari warna-warna monoton. Demikian juga sebaliknya. Jadi sebenarnya semua adalah warna-warna yang indah. Entah itu kuning, hijau, biru, ungu, abu-abu atau coklat. Sekarang tergantung kita melihatnya dari sisi yang mana. Dari sisi warnanya saja atau dari sisi hubungannya dengan sekitarnya. Yang penting lagi adalah kesadaran saat kita melihat warna-warna tersebut. Apakah keseluruhan proses warna itu yang kita lihat atau hanya sebagian saja. Kadang kita tidak pernah sadar bahwa warna yang terindah sudah ada di depan mata. Kita membayangkan disuatu tempat warna-warnanya bagus. Sementara setelah kita ke tempat tersebut kita tidak melihat seperti yang kita bayangkan. Karena pikiran dan imajinasi kita tidak sesuai dengan yang kita lihat. Kasihan sekali jika seperti itu. Aku mulai melihat keseluruhan warna dari prosesnya, dari hubungannya dengan sekitar. Kastil-kastil itu ternyata lebih hidup jika ada orang-orang yang lalu lalang memakai baju hangat berwarna-warni. Mobil-mobil yang diparkir juga memberi warna-warna tertentu. Pemandangan tertutup kabut dibelakang kastil-kastil itu juga menambah suasana yang menakjubkan. Ternyata hidup itu jadi lebih indah, karena semua menyajikan warna-warna yang terindah untuk kita nikmati, dimanapun dan apapun yang sedang kita lakukan.
Kamis, 06 Maret 2008
semua indah
tak pernah kuduga
semuanya berubah
saat kau memandangku
bergetar hati ini
kau berikan harapan
tentangwarna-warni hariku
semenjak ada dirimu
dunia terasa indahnya
semenjak kau ada di sini
kumampu melupakannya
kini aku tak sabar
kini hati kau untukku
nyatakanlah kepadaku
janji indah yg kutunggu
semua kini tlah bersinar lagi
takkan kuingat dia
semenjak ada dirimu
dunia terasa indahnya
semenjak kau ada di sini
tak ingin melepaskanmu
kau berikan harapan tentang
warna-warni hariku
warna-warni hariku
semuanya berubah
saat kau memandangku
bergetar hati ini
kau berikan harapan
tentangwarna-warni hariku
semenjak ada dirimu
dunia terasa indahnya
semenjak kau ada di sini
kumampu melupakannya
kini aku tak sabar
kini hati kau untukku
nyatakanlah kepadaku
janji indah yg kutunggu
semua kini tlah bersinar lagi
takkan kuingat dia
semenjak ada dirimu
dunia terasa indahnya
semenjak kau ada di sini
tak ingin melepaskanmu
kau berikan harapan tentang
warna-warni hariku
warna-warni hariku
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)