Selasa, 18 Maret 2008

KERETA API

09 Maret 2008

Sabtu kemarin naik kereta ke Bogor. Biasa, kereta listrik, KRL ekonomi yang murah meriah dan ramai. Heran juga kenapa terbiasa menyebut kereta dengan kereta api, padahal sekarang kereta ada yang bertenaga diesel, listrik. Tetap saja menyebut dengan kereta api dengan konotasi kereta yang mengeluarkan api. Seram juga membayangkan kalau kereta itu benar-benar mengeluarkan api. Siapa juga yang mau naik dan mendekat bukan? Kebiasaan memang susah dihilangkan.

Saya lupa kalau ada kereta express, yang be AC dan tujuan langsung Bogor tidak berhenti-henti di setiap stasiun. Tapi sudah terlanjur membeli tiket kereta ekonomi. Tidak tahunya lewat yang express Jakarta Bogor. Keburu sudah di jalur tunggu tidak mungkin membeli tiket. Untuk gambling naik dan membayar diatas kereta itu bukan kebiaasaan saya. Bukan mau sok idealis, tapi utamakan tertib dan disiplin dari diri sendiri, itu kebiaasaan baik yang tidak bisa dihilangkan juga ternyata. Jadi ya menunggu kereta ekonomi yang sudah saya beli tiketnya seharga Rp.2500,- itu. Tidak apalah. Toh saya tidak dikejar waktu dan setan kok. Lagipula banyak pemandangan yang bisa dilihat, dari anak kuliahan yang duduk disebelah saya, mbak-mbak ber make up ½ tebal, ibu-ibu yang berdandan ala bintang film sinetron lengkap dengan baju ketat dan sepatu hak 5cm, keluarga harmonis yang saling bergandengan tangan satu sama lain supaya tidak hilang hingga mas-mas perokok yang punya mata jelalatan.

Tiga puluh menit kemudian kereta datang, untunglah, soalnya saya sudah mulai pengap dengan bau rokok mas-mas itu. Uhuk…uhuk…Seperti biasa dan layakanya pada umumnya kereta kelas bawah yang murah meriah itu, pintu masuk selalu berebutan. Entah orang yang akan keluar, entah orang yang akan masuk atau orang yang berdiri di pintu masuk saja. Pokoknya mau masuk harus ada perjuangan dulu. Didalam kereta adalah perjuangan yang lain lagi. Untung yang ketiga kalinya, di dalam kereta tidak terlalu ramai. Saya dapat tempat duduk. Mungkin karena masih pagi, jadi orang banyak yang belum bepergian dan masih senang pelukan dengan selimut.
Alhasil saya duduk disebelah ibu-ibu yang langsung mendekap barang-barang bawaannya begitu saya duduk disebelahnya. Tapi dari matanya kelihatan kalau sudah cukup senang karena saya yang duduk disebelahnya. Mungkin kalau yang duduk disebelahnya itu mas-mas perokok tadi pasti sudah langsung melotot matanya.
Setelah kereta berangkat, makin ramai saja suasananya. Ada anak kecil yang memasang muka memelas, berpakaian seragam kotor, menyapu sepanjang koridor, terus setiap bertemu dengan wanita selalu menengadahkan tangan, minta belas kasihan. Kenapa yang diminta selalu wanita? Apalagi wanita berjilbab selalu diminta sumbangan. Berlama-lama ditunggu, kalau diacuhkan sering dimaki-maki. Apa salahnya wanita yang memakai jilbab itu? Apa kalau memakai jilbab harus selalu memberikan sumbangan pada orang-orang? Apalagi yang berpura-pura seperti itu?

Jangan heran kalau tiba-tiba disodori permen jahe atau permen asam tanpa basa basi ada di tangan kita. Pedagangnya selalu bermuka masam, seperti permen yang dijualnya. Dan dia akan kembali lagi untuk mengambil permen itu, kalau tidak dikembalikan dia akan meminta uang. Tidak perlu teriak-teriak bukan. Sungguh praktis.
Banyak pedagang lain yang lalu lalang, Rokok,rokok, tissue, jepit rambut,jeruk, jeruk, aqua, aqua…..begitu teriakan-teriakan di dalam kereta. Belum lagi lewat tukang ngamen, yang memakai speaker cempreng……sekali suaranya. Atau yang meminta sumbangan untuk pembangunan mesjid ini mesjid itu. Banyak yang sangat menarik untuk dilihat. Tiap pedagang mempunyai spesialis dagangan tertentu. Seperti pedagang jeruk, dia hanya menjual jeruk, lima ribu tiga, lima ribu tiga. Pedagang minuman hanya menjual minuman yang sejenis, teriakannya aqua aqua, entah merek apa minuman yang dijual tapi teriakkannya tetap aqua, aqua. Pedagang rokok sejenis dengan tissue, korek api, kalau korek ini benar-benar mengeluarkan api. Terkadang satu orang pedagang punya papan untuk pajangan barang-barang apa saja yang akan dijual. Berbentuk kotak sebesar 1x1m. Ada yang dipajang jenis perhiasaan wanita, ikat rambut, jepit rambut, sisir, pita, gunting kuku, warna warni. Ada juga yang berjenis lain, campur aduk entah jenis apa namanya, barang-barang yang dijual adalah gunting kuku, kikiran kuku, gunting biasa, korek kuping, diatas pajangan korek kuping itu ada racun tikus, wah…aneh sekali,kenapa korek kuping menjadi satu jenis dengan racun tikus ya.

Tiba-tiba saya kaget, berhenti, berhenti, kereta sampai disini saja. Lo, ini kan belum sampai Bogor, kenapa disuruh turun? Terus bagaimana bisa sampai ke Bogor? Wah, ternyata disuruh tukar kereta di peron sebelah. Hahaha….seperti naik bis kota di Jakarta saja, kalau sepi penumpang disuruh turun terus disuruh naik bis berikutnya kalau ada, dan kalau mau. Kalau bis berikutnya tidak mau terpaksa bayar lagi. Nasib-nasib….Kereta juga begitu ternyata. Yah….sekali lagi namanya juga orang jawa mau protes bagaimana, yang ada cuma ngedumel, terutama penumpang wanita, langsung ngedumel. Bukan rasis lo, tapi itu yang terjadi. Akhirnya harus ke peron sebelah, dengan jalan turun dulu ke stasiun bawah, terus naik lagi. Untung tidak terlalu lama menunggu, kereta berikutnya sudah ada dan lebih ramai dari yang tadi. Jadi saya berdiri deh, karena banyak ibu-ibu yang harus diutamakan dahulu. Saya berdiri disebelah anak-anak SMA perempuan-perempuan yang selalu cekikikan sepanjang perjalanan. Setelah saya perhatikan sekeliling, ternyata dekat mereka ada laki-laki memakai baju sekolah penerbang. Pantas saja, abg abg itu mau menarik perhatian calon penerbang kita.

Terakhir saya naik kereta 5 tahun yang lalu, dan sampai sekarang hal-hal seperti itu belum berubah. Bagaimana perkereta apian Indonesia ini? O….bukan perkereta apian, tapi kondisi dan tradisi masyarakat yang tidak berubah juga. Sama sekali, atau perubahan itu sangat kecil. Terlihat dari dagangan, para penumpang, dari situasi di dalam kereta dan terlebih kondisi kereta semua masih sama seperti 5 tahun yang lalu. Yang berubah hanya sedikit sekali dari semuanya. Saya hanya membayangkan 5 tahun lagi kedepan apa masih sama seperti ini? Terus kapan majunya?

5 tahun yang lalu saya juga pernah diberhentikan di stasiun yang lebih kecil lagi, di daerah entah berantah buat saya, tanpa pemberitahuan dari sipir, kepala kereta, atau siapapun yang berwenang. Sama dengan yang sekarang ini, tanpa pemberitahuan kenapa harus bertukar kereta, tanpa pemberitahuan harus naik kereta yang mana. Kalau kita tidak memiliki rasa kebersamaan, ramah dan saling bertukar pikiran dengan sesama penumpang, pasti kita akan tersesat. Itu jelas sekali. Apalagi buat orang seperti saya yang sangat sangat jarang naik kereta. Tersesat atau bahkan kembali lagi naik kereta ke Jakarta, atau malah ke Surabaya? hahaha…kalau membayangkan itu lucu juga. Entahlah, karena ‘hanya’ berkarcis Rp.2.500,- Jakarta Bogor,para penumpang layak diperlakukan seperti itu? Murah meriah, desak-desakkan, pengap, bising, colek-colekkan tangan iseng? Sangat pembauran sekali. Bahkan setelah sampai Bogor dan keluar dari stasiun saya baru sadar kalau tadi di dalam kereta sama sekali tidak diperiksa oleh sipir kalau kita memiliki karcis atau tidak. Agh…..jika tahu tidak ada pemeriksaan dari PJKA kenapa tadi saya tidak naik express saja?????

Tidak ada komentar: